Flag Counter
Monday, October 29, 2012

Monday, October 29, 2012

Paus Beluga Jantan Tirukan Suara Manusia

Yahoo.com ---- Oleh Charles Choi, Kontributor LiveScience | LiveScience.com

Paus beluga jantan bernama Noc bisa menirukan suara manusia, demikian dilaporkan ilmuwan pada 23 Oktober 2012 di jurnal “Current Biology”.

Penemuan tersebut adalah yang pertama yang menunjukkan paus bisa menirukan suara manusia, dan membuat ilmuwan ingin meneliti kemampuan yang sama dari paus lain.

Paus beluga yang juga disebut paus putih, dijuluki “burung kenari laut” karena kemampuan vokalnya. Beluga adalah salah satu jenis paus yang paling kecil.

Noc yang mengagumkan
Pada 1984, iimuwan di National Marine Mammal Foundation di San Diego, mendengar suara yang tidak biasa dari tempat mereka menyimpan paus dan lumba-lumba. Suara tersebut terdengar seperti suara orang yang sedang berbincang dari kejauhan, namun tidak terdengar jelas karena jaraknya terlalu jauh.

Peneliti melacak asal suara tersebut dan mengetahui berasal dari paus putih jantan, Noc. Seorang penyelam menanyakan hal yang aneh pada rekannya: “Siapa yang menyuruhku keluar?” Peneliti menyimpulkan suara yang menyerupai kata “keluar” berasal dari Noc.

Ada banyak kesempatan bagi Noc untuk mendengar orang berbicara. Sebelumnya Noc mendengar orang berbicara di permukaan, dan juga dia mendengar orang berbicara dengan dengan alat yang memungkinkan mereka berbicara dengan para penyelam di dalam air.

Berita lucu yang menyebutkan mengenai paus putih yang bersuara seperti manusia pernah muncul di masa lalu. Contohnya penjaga Vancouver Aquarium, mengatakan bahwa seekor paus putih berusia 15 tahun pernah menyebut namanya, “Lagosi”.

Dalam sebuah tes yang lebih mendalam untuk mengetahui  apakah Noc memang bisa menirukan suara manusia, ilmuwan memberikan Non makanan kecil untuk setiap suara yang dia keluarkan, dan memancing Noc agar terus membuat suara hingga ilmuwan bisa merekamnya.

Analisis suara Noc mengungkap irama yang mirip perkataan manusia. Mereka juga menampilkan frekuensi dasar yang beberapa oktaf lebih rendah dari suara paus dan  lebih mendekati suara manusia.

“Kami sangat kagum — suaranya sangat mirip dengan manusia dan tidak seperti paus normal lainnya,” ujar peneliti Sam Ridgway, ahli neurobiologi,  peneliti hewan, and ketua National Marine Mammal Foundation, pada LiveScience. "Kami tidak pernah mendengar hal seperti ini sebelumnya."

Paus yang memonyongkan mulutnya

Suara tersebut sangat mengejutkan karena paus biasanya membuat suara dengan cara yang sangat berbeda dari manusia. Mereka menggunakan saluran hidung, dan bukan rongga suara atau pangkal tenggorokan seperti manusia. Untuk membuat suara seperti manusia, Noc harus mengatur tekanan udara dalam saluran hidungnya sambil menyesuaikan katup yang seperti bibir dan mengembangkan kantung di bawah lubang semburnya.

“Usaha yang demikan besar menunjukkan motivasi untuk melakukan kontak” ujar Ridgway.

Suara Noc yang seperti manusia muncul hilang setelah sekitar empat tahun, setelah dia dewasa. Namun Noc masih cukup sering mengeluarkan suara selama 30 tahun setelahnya. (Noc sudah mati lima tahun lalu.)

Ridgway mengingatkan bahwa orang-orang “jangan berpikir paus bisa berkomunikasi dengan kita seperti percakapan biasa dari hasil penemuan ini.” Namun “masih diperlukan penelitian lanjut untuk memastikan apakah paus bisa berkomunikasi seperti percakapan biasa dengan manusia.”

Paus beluga sering kali dikurung dalam penangkaran dan peneliti ingin mengetahui apakah paus tersebut juga bisa menirukan suara manusia. “Penjaga akuarium harus sigap untuk perilaku paus yang seperti itu dan memastikan apakah kejadian tersebut dianalisis dengan metode akustik yang tepat.” ujar Ridgway.

5 Facial dan Spa Unik di Dunia


Demi terlihat cantik, banyak orang melakuan perwatan. Tidak jarang, mereka harus mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membayar perwatan tersebut. Bahkan, ada bebrapa orang yang rela merawat kecantikan dengat cara unik berikut ini.


TERAPI ULAR MERAYAP
Badan yang bugar berarti bebas dari pegal linu akibat otot yang kaku. Biasanya sih, kita akan melakukan terapi pijat dan lulur untuk mengatasinya. Tapi, di Israel, teaptnya di Talmei Elazar, ada satu Home-Spa yang menawarkan tertapi dengan cara yang sedikit mendebarkan. Yup, terapis Ada Barak dari Carnivorous Plant Farm menggunakan ular untuk membuat tubuh kita bebas pegal.
Caranya, pasien diminta berbaring dengan santai dan sang terapis akan meletakkan beberapa ekor ular di atas wajah dan punggung/wajah pasien. Ada sekitar 6 ekor ular yang akan merayap menyusuri punggung/wajah pasien. Banyak pasien yang mengaku bahwa penyakit migrain yang merka derita, berhasil sembuh berkat terapi yang unik ini. Pasalnya, ular yang merayap di atas kulitnya terasa bagaikan kompres dingin yang melegakan dan menenangkan.

Ada Barak percaya, bahawa ular adalah simbol dari pengobatan karena menurutnya, ‘apa yang bisa membunuhmu sebenarnya bisa menyembuhkanmu juga.’ Ingin mencoba terapi ular yang unik dan menegangkan ini? Dengan membayar US$70 (sekitar Rp. 665.000,-), kita bisa merasakan sensasinya.

TERAPI PIJAT KAKTUS
Four Season Resort Punta Mita, spa resort mewah di Meksiko menyediakan terapi pijat menggunakan kaktus. Eits, tapi jangan bayangkan terapinya akan menggunakan duri kaktus yang menancap seperti terapi akupuntur. Ya, karena kaktus yang digunakan dalam terapi pijat yang bernama Hakali ini menggunakan lembaran-lembaran kaktus yang sudah dibersihkan durinya.
Prosesnya dimulai dengan mengolah daun kaktus. Lembaran-lembaran kaktus berwarna hijau itu terlebih dulu direndam dalam air hangat supaya lembut. Setelah lembut dam lentur, kaktus dibelah menjadi dua sisi dan sisi yang berlendir digunakan untuk menggosok kulit tubuh yang kering.
Kaktus yang digunakan adalah  jenis kaktus Nopal, Sejenis lidah buaya, yang diyakini memiliki khasiat melembapkan, mengeluarkan racun dari tubuh dan menyembuhkan kulit yang terbakar sinar matahari. Tinggal merogoh dompet sebanyak US$245 (sekitar Rp. 2,3 juta) untuk pijat kaktus selama 80 menit.

FACIAL MENGGUNAKAN KAVIAR
Begitu mendengar nama makanan satu ini, langsung deh teringat harga jualnya yang bisa mencapai puluhan juta rupiah per kilogramnya. Nah, sekarang, coba banyangkan jika makanan termahal di dunia ini digunakan untuk facial.
Ternyata, perawatan seperti ini memang ada dan ditawarkan oleh Hilton Cavalieri Hotel Grand Spa di Roma, Italia dan Four Season Hotel di Beverly Hills Los Angeles, Amerika Serikat. Telur ikan Strugeon ini diyakini memiliki manfaat menghaluskan dan menyegarkan, sekaligus mengengcangkan dan juga mencerahkan kulit wajah. Biayanya? US$295 (sekitar Rp 2,8 juta) untuk perawatan selama 90 menit.

FACIAL DENGAN KOTORAN BURUNG BULBUL
Burung Bulbul yang bernama keren Nightingale ini, ternyata banyak dicari untuk bahan baku perawatan kecantikan. Namun, jangan terkejut jika yang digunakan adalah kotoran dari burung bersuara merdu ini. Yiaks!
Perawatan wajah yang beken denga sebutan Facial Geisha ini, ternyata sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu. Para Geisha percaya kandungan enzim dan asam amino di dalam kotoran tersebut mampu mencerahkan warna kulit wajah.
Sebelum dioleskan ke wajah,kotoran burung tersebut disterilisasi terlebih daahulu seupaya aman untuk kulit. Lalu, dioleskan ke wajah seperti memakai masker. Ingin mencobanya? Datang saja ke Shizuka  New York Spa serta Diamond Hawaii Resot & Spa di Maui, Amerika serikat dan siapkan uang sekitar US$180 (sekitar 1,7 juta) untuk merasakan sensasi perawatan wajah dengan kotoran burung ini. Kabarnya, Victoria Beckham, istri pesepak bola ternama David Beckham, rajin melakukan terapi ini, lho.

PERAWATAN KULIT DENGAN JERAMI
Jerami yang biasanya menjadi limbah pertanian dan sering dibakar begitu saja, ternyata memiliki manfaat bagi kecantikan. Tenag, perawatan unik memakai jerami ini tidak terasa gata sama sekali kok.
Perawatan ini diawali dengan membalut tubuh dengan jerami basah. Lalu, kita akan berendam dalam bak berisi air hangat bersuhu 38 derajat Celcius. Selain membuat kulit mulus, perwatan ini mampu meningkatkan daya tahan dan metabolisme tubuh, lho.
Jika ingin mencoba, Heubad Hotel di Italia menawarkan perwatan jerami ini dengan harga US$50 (Sekitar Rp. 475.000,-) selama 25 menit. Mereka menggunakan jerami yang khusus didatangkan dari pengunungan Alpen di Swiss, yang dipanen pada pertengahan bulan Juli hingga awal Agustus saja.

 
Toggle Footer
Top